SirtanioBeli sekarang

Cara masak

Beras Merah Kenapa Lebih Mahal?

Redaksi Sirtanio6 menit baca

Kemasan satu kilogram beras merah organik Sirtanio berdiri di samping karung goni berisi beras merah yang tumpah
Isi artikel
  1. Singkatnya
  2. Panennya lebih sedikit, kerjanya lebih banyak
  3. Sertifikasi dan uji lab itu biaya yang jalan terus
  4. Lapisan luarnya bikin umur simpannya lebih pendek
  5. Jumlah produksinya lebih sedikit
  6. Kalau patokan kamu harga per kilo
  7. Cara nyiasatin harganya tanpa berhenti makan beras merah
  8. Pertanyaan yang sering muncul

Selisih harga antara beras merah organik dan beras putih biasa itu nyata, dan hampir nggak ada yang menjelaskan datangnya dari mana. Padahal dua-duanya padi, ditanam di sawah, digiling, lalu dikemas.

Jawabannya bukan satu hal. Ada empat hal yang bikin harga beras merah pada umumnya lebih tinggi, dan semua hal tadi ada alasannya sendiri-sendiri. Ini rinciannya.

Singkatnya

  • Panen organik per hektarnya lebih sedikit, dan pengerjaannya lebih banyak pakai tangan.
  • Sertifikasi dan uji laboratorium itu biaya berkala, bukan sekali seumur hidup.
  • Beras merah lebih cepat berubah kualitasnya karena lapisan luarnya berminyak, jadi stoknya harus berputar cepat dan dikemas vakum.
  • Jumlah produksinya lebih sedikit daripada beras putih, jadi tiap kali giling, biaya tetapnya dibagi ke lebih sedikit hasil panen.
  • Kalau patokan kamu murni harga per kilo, beras merah organik memang kalah.

Panennya lebih sedikit, kerjanya lebih banyak

Sawah organik nggak pakai pestisida kimia dan nggak pakai pupuk kimia. Yang menggantikan itu waktu dan tenaga: pengendalian hama dikerjakan lebih manual, penyiangan lebih sering, dan kesuburan tanahnya dibangun pelan lewat cara yang butuh musim, bukan lewat sekali tabur.

Hasilnya, satu hektar sawah organik biasanya panen lebih sedikit daripada sawah yang dibantu bahan kimia. Ongkos garapnya per kilo beras jadi lebih tinggi sebelum berasnya keluar sawah.

Di Sirtanio, berasnya ditanam 205 petani mitra di 13 kecamatan Banyuwangi, di lahan seluas 176 hektar. Kami membeli hasil panen mereka langsung, bukan lewat tengkulak, lalu menggilingnya di pabrik kami sendiri di Singojuruh. Rantai yang lebih pendek itu bagus buat petaninya dan bikin asal berasnya jelas, tapi jujur, bukan cara paling murah buat dapat gabah.

Sertifikasi dan uji lab itu biaya yang jalan terus

Ini bagian yang paling sering nggak kelihatan pembeli, karena yang sampai ke kemasan tinggal berupa logo dan deretan nomor.

Beras yang dijual sebagai organik nggak cukup ditanam secara organik. Prosesnya harus diperiksa lembaga sertifikasi, dan pemeriksaannya berulang, bukan sekali lalu selesai. Empat yang kami pegang, lengkap dengan nomornya, tercantum di setiap halaman produk kami: SNI Organik 6729:2016 dari SDS Indonesia, uji bebas residu kimia dari laboratorium PT Maxzer, PSAT dari Kementerian Pertanian, dan Halal dari BPJPH.

Nomornya kami cantumkan supaya bisa dicocokkan sama yang tercetak di kemasan yang kamu pegang.

Semua itu ada ongkosnya, dan ongkosnya masuk ke harga per kilo. Beras tanpa sertifikasi nggak menanggung biaya ini.

Lapisan luarnya bikin umur simpannya lebih pendek

Ini alasan yang paling jarang disebut, padahal pengaruhnya nyata ke harga.

Lapisan luar butir beras merah yang masih utuh itu mengandung minyak alami. Minyak itu yang bikin beras merah punya rasa lebih gurih, dan minyak itu juga yang bikin aromanya lebih cepat berubah kalau kena udara dan panas terlalu lama.

Beras putih yang lapisannya sudah dilepas nggak punya masalah itu, jadi bisa disimpan lebih lama dengan tenang.

Praktisnya buat produsen: stok beras merah nggak bisa ditumpuk lama. Produksinya dibuat lebih sering dalam jumlah lebih kecil, dan kemasannya divakum satu kilogram supaya berasnya baru kena udara waktu kamu buka sendiri. Semua itu nambah ongkos per kilo dibanding beras yang dikarung besar dan boleh nunggu di gudang.

Jumlah produksinya lebih sedikit

Beras merah cuma sebagian dari beras yang dimakan orang Indonesia, dan beras organik bersertifikat lebih kecil lagi bagiannya.

Tiap kali penggilingan jalan, biaya tetapnya jalan juga: listrik, tenaga kerja, pembersihan alat, dan pemeriksaan mutu. Kalau hasil panen yang masuk ke satu putaran giling itu sedikit, biaya tetap tadi ditanggung beras yang lebih sedikit, dan ongkos per kilonya naik.

Beras merah sendiri 70% dari seluruh panen kami setahun, tapi itu ukuran kebun kami, bukan ukuran pasarnya.

Kalau patokan kamu harga per kilo

Kalau yang kamu bandingkan murni harga per kilogram, beras merah organik memang kalah, dan nggak ada cara ngeles dari situ. Beras putih biasa lebih murah dan akan tetap lebih murah.

Jadi yang lebih berguna buat kamu tahu bukan biayanya dari mana, tapi apa yang kamu dapat dari selisihnya. Tiga hal, dan semuanya bisa dicek:

  • Beras yang ditanam tanpa pestisida kimia, dan cara tanamnya diperiksa lembaga sertifikasi di luar kami.
  • Beras yang bebas residu kimia, dibuktikan lewat uji laboratorium, dan nomor hasil ujinya kami cantumkan di halaman produk.
  • Butiran yang lapisan luarnya masih utuh, berikut serat dan folat yang ada di lapisan itu.

Kalau tiga hal itu yang kamu cari, selisihnya kebayar. Kalau yang kamu pentingin itu harga per kilo, beras putih biasa lebih masuk akal.

Yang bikin duitnya kebuang biasanya bukan harganya, tapi berasnya nganggur di rak gara-gara masak pertama hasilnya keras. Itu yang bisa kamu hindari.

Cara nyiasatin harganya tanpa berhenti makan beras merah

Ada empat cara yang beneran ngebantu.

Campur sama beras putih. Satu bagian beras merah buat tiga bagian beras putih itu titik mulai yang wajar, dan ongkos hariannya cuma naik sedikit. Naikkan perbandingannya pelan-pelan kalau seisi rumah sudah terbiasa.

Beli sesuai yang kepakai. Beras merah lebih baik dibeli dalam jumlah yang habis dalam beberapa minggu daripada ditimbun lama. Menimbun beras merah bukan penghematan kalau aromanya keburu berubah.

Simpan yang benar. Setelah kemasannya dibuka, pindahkan ke wadah tertutup rapat, jauh dari kompor dan dari sinar matahari langsung. Beras yang disimpan asal-asalan lebih cepat kering, dan yang kering butuh air lebih banyak waktu dimasak.

Masak sekali dengan benar. Yang bikin kamu merasa buang duit biasanya bukan harganya, tapi hasil masak pertama yang keras. Cara ngatasinnya ada di artikel kenapa beras merah sering keras.

Beras merah organik Sirtanio dikemas vakum satu kilogram, indeks glikemiknya 56 dari skala 0–100, dan asalnya dari Desa Segobang di Banyuwangi.

Pertanyaan yang sering muncul

Beras merah yang lebih murah berarti nggak bagus?

Belum tentu. Harga dipengaruhi banyak hal, termasuk skala produksi dan jalur distribusinya. Yang lebih berguna dicek itu apa yang tercantum di kemasan: sertifikasinya apa, nomornya berapa, dan dari mana asalnya.

Kenapa beras organik dan beras biasa harganya bisa beda jauh?

Yang kamu dapat dari beras organik: berasnya ditanam tanpa pestisida kimia, dan hasil panennya diuji laboratorium buat memastikan nggak ada residu kimia yang tertinggal. Dan beras organik tanpa residu kimia itu yang kamu masak dan kamu makan tiap hari.

Harganya lebih tinggi karena dua hal tadi prosesnya lebih panjang: menanam tanpa bahan kimia panennya lebih sedikit dan kerjanya lebih banyak, dan uji lab plus sertifikasinya butuh ketelitian dan waktu. Apa yang dimaksud organik, dan siapa yang memeriksanya, ada di artikel beras organik itu apa.

Beras merah organik sama beras coklat organik, mahalan mana?

Harganya beda-beda tiap marketplace, jadi paling akurat dicek langsung di toko resmi. Yang pasti, cara tanam dan pemeriksaannya sama buat dua-duanya, jadi yang nentuin pilihan biasanya bukan harganya: beras merah indeks glikemiknya 56, beras coklat 64, dan makin kecil angkanya makin lambat karbohidratnya dicerna. Bedanya lengkap ada di artikel beras coklat vs beras merah.