Cara masak
Cara Mencuci Beras yang Benar, dan Kenapa Jangan Berlebihan

Isi artikel
Cuci sampai airnya bening. Kamu mungkin pernah dikasih tahu begitu, dan hampir nggak pernah dikasih tahu kenapa.
Padahal air cucian beras yang keruh itu bukan kotoran. Yang bikin keruh itu pati dari permukaan butir berasnya, dan pati itu memang bagian dari beras. Kalau kamu ngejar air yang bening, yang kamu buang bukan kotoran, melainkan beras dan tenaga.
Singkatnya
- Air keruh waktu beras dicuci itu pati dari permukaan butir berasnya, bukan kotoran. Makin lama dicuci, makin banyak pati yang ikut kebuang.
- Dua kali bilas dengan tangan terbuka sudah cukup buat beras jenis apa pun.
- Jangan dikucek. Butir beras yang pecah waktu dikucek itu yang bikin nasinya lembek nggak rata.
- Buat beras merah, coklat, dan hitam, airnya memang bakal tetap berwarna. Itu warna lapisan luarnya yang larut, bukan tanda berasnya luntur.
- Butir beras yang mengambang waktu dicuci itu yang perlu dibuang.
- Airnya nggak perlu sampai bening.
Yang sebenarnya larut waktu beras dicuci
Waktu padi digiling, permukaan butir berasnya saling bergesekan, dan gesekan itu ninggalin serbuk pati halus yang nempel di luar butir berasnya. Serbuk itu yang bikin air cucian pertama kelihatan putih keruh.
Kalau serbuk pati itu ikut masuk ke rice cooker, dia larut ke air masak dan bikin butir nasinya lebih lengket satu sama lain. Buat sebagian masakan itu justru yang dicari. Buat nasi sehari-hari, biasanya yang kamu mau butir nasinya masih kelihatan satu-satu, dan di situlah mencuci beras kepakai.
Yang ikut kebuang di dua bilasan pertama itu serbuk pati tadi, plus debu dari penggilingan dan dari kemasan. Mulai bilasan ketiga dan seterusnya, yang larut tinggal pati dari lapisan berasnya sendiri.
Jadi tujuan mencuci beras itu ngilangin serbuk pati di permukaan butirnya, bukan bikin airnya jernih. Dua hal yang beda, dan yang kedua nggak pernah selesai.
Caranya
- Tuang beras ke panci rice cooker, terus isi air sampai berasnya terendam.
- Aduk pelan pakai tangan terbuka, dua tiga putaran, seperti mengaduk air, bukan seperti meremas.
- Miringkan pancinya dan buang airnya, tahan berasnya pakai tangan.
- Ganti air, terus ulangi sekali lagi. Habis itu buang airnya dan langsung isi air masaknya.
Seluruhnya nggak sampai satu menit. Air bilasan kedua biasanya masih agak keruh, dan itu memang keadaan yang benar buat berhenti.
Kalau mau hasil bilasannya lebih bersih, ganti airnya lebih sering, bukan ngaduknya lebih keras. Air baru yang ngambil patinya, tangan kamu cuma bantu ngangkat serbuknya dari sela butir beras.
Kenapa ngucek justru merugikan
Butir beras itu lebih rapuh dari yang kelihatan, apalagi beras yang sudah lama disimpan dan jadi lebih kering daripada beras baru.
Waktu dikucek, butir beras saling bergesekan keras dan sebagian patah. Butir beras yang patah menyerap air lebih cepat daripada butir beras yang utuh. Jadi dalam satu panci, sebagian butir beras matangnya kecepetan dan sebagian belum. Hasilnya nasi yang lembek di satu bagian dan masih bergigit di bagian lain, walaupun takaran airnya sudah pas.
Buat beras yang lapisan luarnya masih utuh, ada satu alasan lagi. Kucekan yang keras bisa ngikis sebagian lapisan luar butir berasnya, padahal di lapisan itulah warna, serat, dan minyak alaminya tinggal. Kenapa lapisan itu yang bikin beras merah beda perlakuannya sudah kami bahas di artikel kenapa beras merah sering keras.
Beras merah, coklat, dan hitam: airnya memang berwarna
Ini yang paling sering bikin orang nyuci kelamaan.
Air cucian beras merah jadi kemerahan, beras hitam jadi keunguan, dan berapa kali pun dibilas warnanya tetap keluar sedikit. Itu bukan pewarna dan bukan tanda berasnya luntur. Lapisan luar butirnya yang masih utuh memang membawa pigmen, dan pigmen itu larut sedikit ke air tiap kali kena air.
Kalau kamu nyuci sampai airnya jernih, yang kamu tunggu nggak akan datang. Berhenti di dua bilasan, seperti beras lainnya. Soal rasa langu yang kadang muncul di beras merah, dan kenapa nyuci berlebihan nggak nolong, ada di artikel kenapa beras merah sering terasa nggak enak.
Yang mengambang, buang
Waktu beras terendam air, perhatikan yang naik ke permukaan.
Butir beras yang sehat tenggelam. Yang mengambang biasanya butir beras yang bagian dalamnya sudah kosong, entah karena patah waktu digiling atau karena sudah dimakan dari dalam. Kenapa butir beras seperti itu bisa ada di beras yang kelihatan bersih dijelasin di artikel cara menyimpan beras supaya nggak kutuan.
Buang yang mengambang bareng air bilasan pertama. Jumlahnya biasanya cuma beberapa butir beras, dan kalau yang mengambang banyak, berasnya sendiri yang perlu dicek.
Habis dicuci, terus apa
Langsung masak, atau direndam dulu kalau kamu mau. Perendaman itu langkah terpisah dari mencuci, dan gunanya beda: mencuci ngilangin pati di permukaan, merendam ngasih waktu buat air masuk ke tengah butir beras. Perlu atau nggaknya sudah kami bahas di artikel soal perendaman.
Cara mencuci ini berlaku sama buat kelima jenis beras kami, dan semua jenisnya ada di halaman produk.
Pertanyaan yang sering muncul
Beras dari kemasan vakum masih perlu dicuci?
Perlu, dengan cara yang sama. Serbuk pati dari penggilingan tetap ada di permukaan butirnya, apa pun kemasannya. Yang beda dari kemasan vakum cuma berasnya baru kena udara waktu kamu buka.
Boleh nyuci beras pakai air panas biar lebih cepat?
Jangan. Air panas bikin permukaan butir beras mulai matang dan pati di permukaannya jadi lengket, jadi serbuk yang mau kamu buang malah nempel. Pakai air biasa.
Air cucian berasnya boleh dipakai?
Boleh, dan yang paling umum dipakai buat nyiram tanaman. Buat masak nasinya sendiri, pakai air baru, supaya takaran airnya gampang dihitung.
- cara mencuci beras
- cara masak beras merah
- beras organik
- nasi pulen